Sabtu, 28 Juli 2012

kumpulan puisi taufik ismail


Doa


Tuhan kami

Telah nista kami dalam dosa bersama

Bertahun membangun kultus ini

Dalam pikiran yang ganda

Dan menutupi hati nurani

Ampunilah kami

Ampunilah

Amin

Tuhan kami

Telah terlalu mudah kami

Menggunakan asmaMu

Bertahun di negeri ini

Semoga

Kau rela menerima kembali

Kami dalam barisanMu

Ampunilah kami

Ampunilah

Amin.

- 1966 -





Mimpi


Mimpi yang bernas
melepas kejang remaja
pandang ranum antara kita 
mengenggani hadir orang ke-3 
Langit panas biru muda 
lantang nafas darah belia 
mengembang bunga di pekarangan di saban tumpak dan debarnya dada
Kerja sehari-hari membilang panas nafas kemudian percakapan di langkan kediaman mimpi ranum menggeliati kejang remaja. 





Kelopak Musim Semi

kepada Helen Werrbach yang memanggang rotiku kering yang menisik piamaku sobek

Di Teluk Ikan Putih, telah terjangkar jasmaniku di pelabuhannya 
Pada kapal-kapal yang masuk dan tertambat sehari-hari 
Anak-anak camar bertebar atas arus melancar 
Dan perbukitan dandan perlente pina-pina berduri

Di Teluk Ikan Putih menutup siang musim semi panjang 
Pada langitnya keruh asap, bayang bangunan dan baja 
Di perut kota bangkitlah malam sambil melenggang 
Dan dermaganya hening lelap, berlelehan kristal kaca

Selamat jalan, malam-malam putih berhujan kapas 
Lewati perairan alim dengan pipinya dingin 
Masih ada yang berlinangan di sela pori-pori karang 
Kenangkan musim yang agung. 
Dan membelatinya angin 
Berjabatlah dengan teluk kami, persinggahan di tahun datang 


Pulang

Dengan bertiupnya angin sehari-hari penuh pengejekan 
Dan pekayuan dipukul angin dan tertunjam, cintaku datang 
Dengan dendangnya mencariku di bawah belahan bintang 
Dan senyum padaku, memenuhi duniaku Jam demi jam, seperti saja dia belum almarhum.

Dan kutunggu dia di bawah pepohonan bungkuk, menunggu 
Kumaukan kemeja yang dipakainya; sandal-sandalnya yang hangus 
Seakan dia berjalan di atas api mendesirkan darahku sebagai 
Tanda kedatangannya, dan kuraih Kubawa ke rumah sampan dan kukubur di perut lantai.

Kuawasi pepohonan tepi air kukira 
Bumi seakan telah lama menatapku, dan cintaku 
Pergi mendanau seakan dia tak pernah kenal 
Tinggallah aku bimbang apa betul dia tak kenal 
Terlalu remaja! 
Aku pergi dan tersedu di rumah sampan.
1957