Doa
Tuhan kami
Telah nista kami dalam dosa bersama
Bertahun membangun kultus ini
Dalam pikiran yang ganda
Dan menutupi hati nurani
Ampunilah kami
Ampunilah
Amin
Tuhan kami
Telah terlalu mudah kami
Menggunakan asmaMu
Bertahun di negeri ini
Semoga
Kau rela menerima kembali
Kami dalam barisanMu
Ampunilah kami
Ampunilah
Amin.
- 1966 -
Mimpi
Mimpi yang bernas
melepas kejang remaja
pandang ranum antara kita
mengenggani hadir orang ke-3
Langit panas biru muda
lantang nafas darah belia
mengembang bunga di pekarangan di saban tumpak dan debarnya dada
Kerja sehari-hari membilang panas nafas kemudian percakapan di langkan kediaman mimpi ranum menggeliati kejang remaja.
Kerja sehari-hari membilang panas nafas kemudian percakapan di langkan kediaman mimpi ranum menggeliati kejang remaja.
Kelopak Musim Semi
kepada Helen Werrbach yang memanggang rotiku kering yang menisik piamaku sobek
Di Teluk Ikan Putih, telah terjangkar jasmaniku di pelabuhannya
Di Teluk Ikan Putih, telah terjangkar jasmaniku di pelabuhannya
Pada kapal-kapal yang masuk dan tertambat sehari-hari
Anak-anak camar bertebar atas arus melancar
Dan perbukitan dandan perlente pina-pina berduri
Di Teluk Ikan Putih menutup siang musim semi panjang
Di Teluk Ikan Putih menutup siang musim semi panjang
Pada langitnya keruh asap, bayang bangunan dan baja
Di perut kota bangkitlah malam sambil melenggang
Dan dermaganya hening lelap, berlelehan kristal kaca
Selamat jalan, malam-malam putih berhujan kapas
Selamat jalan, malam-malam putih berhujan kapas
Lewati perairan alim dengan pipinya dingin
Masih ada yang berlinangan di sela pori-pori karang
Kenangkan musim yang agung.
Dan membelatinya angin
Berjabatlah dengan teluk kami, persinggahan di tahun datang
Pulang
Dengan bertiupnya angin sehari-hari penuh pengejekan
Dan pekayuan dipukul angin dan tertunjam, cintaku datang
Dengan dendangnya mencariku di bawah belahan bintang
Dan senyum padaku, memenuhi duniaku Jam demi jam, seperti saja dia belum almarhum.
Dan kutunggu dia di bawah pepohonan bungkuk, menunggu
Dan kutunggu dia di bawah pepohonan bungkuk, menunggu
Kumaukan kemeja yang dipakainya; sandal-sandalnya yang hangus
Seakan dia berjalan di atas api mendesirkan darahku sebagai
Tanda kedatangannya, dan kuraih Kubawa ke rumah sampan dan kukubur di perut lantai.
Kuawasi pepohonan tepi air kukira
Kuawasi pepohonan tepi air kukira
Bumi seakan telah lama menatapku, dan cintaku
Pergi mendanau seakan dia tak pernah kenal
Tinggallah aku bimbang apa betul dia tak kenal
Terlalu remaja!
Aku pergi dan tersedu di rumah sampan.
1957
1957

.png)
.jpg)
